Morbiditas (Angka Kesakitan)

Morbiditas adalah angka kesakitan (insidensi dan prevalensi) dari suatu penyakit yang terjadi pada populaso dalam kurun waktu tertentu. Morbiditas berhubungan dengan terjadinya atau terjangkitnya penyakit di dalam populasi, baik fatal maupun non-fatal. Angka morbiditas lebih cepat menentukan keadaan kesehatan masyarakat dari pada angka mortalitas, karena banyak penyakit yang mempengaruhi kesehatan hanya mempunyai mortalitas yang rendah (Profil Kesehatan Indonesia, 2008). Berikut ini digambarkan distribusi 10 (sepuluh) penyakit terbesar pada 19 Puskesmas di Kabupaten Karo.

10 Penyakit Terbesar di Puskesmas se-Kabupaten Karo Tahun 2014

No Nama Penyakit Jumlah Kasus %
1 Penyakit lain saluran pernafasan bagian atas 30.430 27,45
2 Infeksi akut lain pada saluran pernapasan bagian atas 29.495 23,78
3 Penyakit tekanan darah tinggi 13.689 11,84
4 Diare (termasuk tersangka kolera) 10.767 8,28
5 Penyakit sistem otot jaringan pengikat (penyakit tulang belulang, radang sendi, rematik) 9.805 7,11
6 Infeksi penyakit usus lain 9800 6,45
7 Ulkus peptikum 5.943 4,90
8 Penyakit kulit alergi 2.468 4,15
9 Penyakit kulit infeksi 2.090 3,12
10 Penyakit kecacingan 2.505 2,91
Total 116.989 100

Dari data 10 penyakit terbesar di Puskesmas se-Kabupaten Karo tahun 2013, penyakit terbanyak adalah penyakit lain saluran pernapasan bagian atas 27,45%, diikuti infeksi akut lain pada saluran pernapasan bagian atas 23,78% dan penyakit tekanan darah tinggi 11,84%.


Berikut ini akan diuraikan beberapa jenis penyakit menular yang menjadi indikator dalam Indonesia Sehat 2010 antara lain penyakit malaria, TB Paru, HIV-AIDS dan IMS, AFP dan DBD.


a. Malaria

Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang upaya penurunan kasusnya terkait dengan komitmen internasional dalam MDGs. Kecamatan yang merupakan daerah endemis penyakit malaria di Kabupaten Karo adalah Lau Baleng, Mardinding, Kutabuluh dan Munte.

Berdasarkan data kunjungan ke Puskesmas ditemukan angka kesakitan malaria menurut jenis kelamin, kecamatan dan Puskesmas tahun 2014 angka suspek malaria 373 orang.


b. TB Paru

Pada tahun 2001, WHO telah memperkirakanIndonesia merupakan Negara dengan kasus TB Paru terbesar ketiga di dunia. Setiap tahunnya diperkirakan terdapat penderita baru TB Paru menular sebanyak 262.000 orang dari 583.000 penderita baru TB Paru. Sebanyak 140.000 orang diantaranya diperkirakan meninggal. Perkiraan tersebut mungkin benar, jika dikaitkan dengan kondisi lingkungan perumahan, sosial ekonomi masyarakat, serta kecenderungan peningkatan penderita HIV/AIDS di Indonesia.


Pada tahun 2002 TB Paru merupakan penyebab kematian terbanyak nomor 4 di Rumah Sakit di Indonesia. Menurut Surkesmas 2001 TB Paru menempati urutan ketiga penyebab kematian umum (9,4%) pada tahun 2003, TB Paru menjadi penyakit nomor 2 terbanyak pada pasien rawat jalan dan penyakit terbanyak nomor 6 pada pasien rawat inap di RSU.


Pada tahun 2008 jumlah kasus TB Paru klinis yang ditemukan di Sumatera Utara sebesar 104.992 kasus, 12.541 dinyatakan positif dan 9.390 dinyatakan sembuh.


Di Kabupaten karo pada tahun 2014 diperkirakan terdapat 330 orang kasus baru BTA (+).


Dari jumlah penderita tersebut tercatat angka kesembuhan (cure rate) TB Paru BTA (+) di Kabupaten Karo sebesar 83,27%. Angka ini lebih rendah dari target angka kesembuhan TB Paru BTA (+) secara Nasional yaitu 85%.

Presentase TB Paru sembuh di Kabupaten Karo masih dibawah target SPM bidang kesehatan yaitu 100% dan terlihat ada kecenderungan penurunan, hal ini kemungkinan karena pasien meninggal dunia maupun DIVOLER (lalai menggunakan obat), gagal pengobatan.


c. HIV/AIDS dan Infeksi Menular melalui Hubungan Seksual (IMS)

Penderita HIV/AIDS merupakan penyakit relatif baru (new emerging diseases) dan muncul sebagai pandemic menakutkan yang beberapa tahun terakhir ini menunjukkan peningkatan yang sangat mengkhawatirkan. Semakin tingginya mobilitas penduduk antar wilayah, menyebarkan sentra-sentra pembangunan ekonomi Indonesia, meningkatnya perilaku seksual yang tidak aman, dan meningkatnya penyalahgunaan NAPZA (Narkotik, Psikotropika Zat Aditif) melalui suntikan, secara simultan telah memperbesar tingkat resiko penyebaran HIV/AIDS.


Jumlah penderita HIV/AIDS dapat digambarkan sebagai fenomena gunung es (ise berg phenomen), yaitu jumlah penderita yang dilaporkan jauh lebih kecil dari pada jumlah penderita yang sebenarnya. Hal ini berarti bahwa jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia yang sebenarnya belum diketahui dengan pasti.


Kasus AIDS telah terdeteksi di 31 provinsi, hanya provinsi Sulawesi Barat yang belum tercatat adanya kasus AIDS. Jumlah kumulatif kasus AIDS dibandingkan penduduk (case rate) sebesar 7,12 per 100.000 penduduk, case rate tertinggi di Provinsi Papua sebesar 129,35 per 100.000 penduduk. Sampai dengan akhir Desember 2008, pengidap HIV positif yang terdeteksi adalah sebanyak 6.015 kasus. Sedangkan kumulatif kasus AIDS sebanyak 16.110 kasus atau terdapat tambahan 4.969 kasus baru selama tahun 2008. Kematian karena AIDS hingga tahun 2008 sebanyak 3.362 kematian.


Di Kabupaten Karo berdasarkan laporan yang ada tercatat telah ditemukan 3 kasus HIV/AIDS periode 2003-2004. Pada tahun 2005 ditemukan 2 kasus HIV di lokasi “resiko tinggi” di desa Sempajaya Kecamatan Berastagi berdasarkan hasil pemeriksaan serologi/ sampai tahun 2012 terdapat 347 (tiga ratus empat puluh tujuh) kasus HIV yaitu di Kecamatan Kabanjahe 130 kasus, Berastagi 64 kasus, Korpri 10 kasus, Tiga Panah 17 kasus, Singa 9 kasus, Dolat Rayat 2, Merdeka 10 kasus, Merek 7 kasus, Barusjahe 10 kasus, Simpang Empat 19 kasus, Naman Teran 4 kasus, Tiganderket 10 kasus, Payung 8 kasus, Munte 7 kasus, Juhar 12 kasus, Tigabinanga 10 kasus, Kutabuluh 9 kasus, Lau Baleng 5 kasus dan Mardingding 5 kasus, pada tahun 2013 angka absolud HIV/AIDS di Kabupaten Karo naik menjadi 382 kasus sedangkan pada tahun 2014 terjadi penurunan menjadi 53.


Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Karo terjadi kenaikan kasus yang sangat melonjak dan tahun 2010 terjadi penurunan kasus sedangkan 2011 meningkat berlipat hal ini kemungkinan karena tahun 2010 banyak penderita yang meninggal, sedangkan tahun 2011 naik bahkan tahun 2012 dan tahun 2013 kasusnya terlihat naik dan turun kembali pada posisi terendah pada tahun 2014.


d. Acute Flaccid Paralysis
Kejadian Acute Flaccid Paralysis (AFP) pada saat ini diproyeksikan sebagai indikator untuk menilai keberhasilan program Eradikasi Polio (Erapo). Erapo dilaksanakan melalui gerakan Pekan Imunisasi Polio (PIN) dan merupakan wujud dari kesepakatan Internasional dalam pembasmian penyakit polio di Indonesia, termasuk di Provinsi Sumatera Utara. Upaya pemantauan terhadap keberhasilan Erapo adalah dengan melaksanakan kegiatan "surveylance secara aktif" untuk menemukan kasus AFP. Upaya ini dimaksudkan untuk mendeteksi secara dini muculnya virus polio liar yang mungkin ada di masyarakat, agar dapat segera dilakukan penanggulangan. Kasus AFP yang ada di masyarakat Indonesia pada Tahun 2008 dilaporkan sebesar 1.683 kasus. Dari semua kasus AFP, yang tertinggi ratenya adalah di Sulawesi Utara sebesar 4,91 per 100.000 penduduk, namum bila melihat pada total kasus jumlah tertinggi terdapat di Sumatera Selatan yaitu sebanyak 84 kasus kemudian Lampung dengan 79 kasus.

Pada tahun 2011 jumlah kasus AFP (non polio) yang ditemukan sebanyak 55 kasus dari 4.289.448 jiwa penduduk berumur < 15 tahun. AFP rate tercatat  1,28 per 100.000 penduduk berumur < 15 tahun. Angka ini  mengalami penurunan dibandingkan tahun 2010 yaitu 75 kasus dari 4.315.441 jiwa penduduk berumur < 15 tahun dengan AFP rate tercatat 1,74 per 100.000 penduduk berumur < 15 tahun (buku evaluasi kegiatan/program). Di Kabupaten Karo pada tahun 2014 ditemukan 1 kasus AFP.


e. Penyakit Demam Berdarah Dengue
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) telah menyebar luas keseluruh wilayah Provinsi dengan jumlah Kabupaten/Kota terjangkit semakin meningkat. Penyakit ini sering muncul sebagai KLB dengan angka kesakitan dan kematian yang relatif tinggi. Insiden rate menurun dari 71,78% pada tahun 2007 menjadi 60,06% pada tahun 2008.

Di Sumatera Utara, DBD masih tetap menjadi KLB di setiap tahunnya dibeberapa Kabupaten/Kota. Data pada tahun 2007 menunjukkan terdapat 2.852 kasus DBD dengan CFR 0,83 dan IR 34,5. Sedankan untuk tahun 2008, tercatat 4.401 kasus DBD di 20 Kabupaten/Kota, yang ditangani ada 4.372 kasus. (Profil Kesehatan Sumatera Utara, 2007-2008)

Tahun 2009 di Kabupaten Karo terdapat 145 kasus DBD yang tersebar pada 8 (delapan) wilayah Puskesmas dengan kasus terbesar ada di Puskesmas Kabanjahe 100 kasus, Puskesmas Barusjahe 16 kasus, Puskesmas Tigapanah 11 kasus, Puskesmas Simpang Empat 8 kasus, Puskesmas Dolat Rayat dan Puskesmas Tiganderket masing-masing 3 kasus, Puskesmas Berastagi dan Puskesmas Payung masing-masing 2 kasus.

Pada tahun 2014 tercatat 248 kasus DBD yang tersebar pada tujuh belas wilayah Puskesmas dengan kasus terbesar ada di Puskesmas Kabanjahe 78 kasus, Puskesmas Berastagi 15 kasus, Puskesmas Korpri 2 kasus, Puskesmas Tigapanah 3 kasus, Puskesmas Singa 12 kasus, Puskesmas Dolat Rayat 14 kasus, Puskesmas Merdeka 6 kasus, Puskesmas Merek 14 kasus, Puskesmas Barusjahe 20 kasus, Puskesmas Simapang Empat 4 kasus, Puskesmas Payung 10 kasus, Puskesmas Munte 4 kasus, Puskesmas Juhar 16 kasus, Puskesmas Tigabinanga 17 kasus, Puskesmas Kuta Buluh 20 kasus, Puskesmas Lau Baleng 7 kasus dan Puskesmas Mardingding 6 kasus.

Terjadi kenaikan kasus DBD mulai dari tahun 2008 sampai tahun 2010 dimana pada tahun 2011 terjadi penurunan kasus yang signifikan tetapi mulai tahun 2011 sampai 2012 ada terus peningkatan kasus, tahun 2013 ada penurunan kasus dan pada tahun 2014 terjadi peningkatan yang sangat signifikan.

Sumber: Profil Kesehatan Kabupaten Karo Tahun 2014

 

POLLING

Pendapat Anda Tentang Dinas Kesehatan Kabupaten Karo?
  • Votes: (0%)
  • Votes: (0%)
  • Votes: (0%)
  • Votes: (0%)
  • Votes: (0%)
Total Votes:
First Vote:
Last Vote:

PEJ. STRUKTURAL

KANTOR

Jl. Kapten Selamat Ketaren No. 9
Telp. 0628-20260
Fax. 0628-32305
Kabanjahe Sumatera Utara
Indonesia 22112
Website: dinkes.karokab.go.id
Email: dinkes@karokab.go.id

Germas1

Gemes